Tangkal Intoleransi di Sekolah, PPG FKIP UMPAR Bekali Calon Guru Lewat Workshop Penguatan Kebinekaan

23 Mei 2026 Nasrullah a 18 views
Tangkal Intoleransi di Sekolah, PPG FKIP UMPAR Bekali Calon Guru Lewat Workshop Penguatan Kebinekaan

PAREPARE — Program Studi Pendidikan Profesi Guru (PPG) FKIP UMPAR menyelenggarakan Workshop Penguatan Kebinekaan pada Sabtu, 23 Mei 2026. Bertempat di Ruang Seminar PPG FKIP UMPAR, kegiatan edukatif ini ditujukan secara khusus bagi para mahasiswa calon guru. Workshop ini diinisiasi bukan sekadar sebagai agenda seremonial, melainkan sebagai bentuk respons aktif dan upaya preventif institusional yang terukur untuk merawat toleransi serta menangkal ancaman radikalisme di lingkungan satuan pendidikan. Dalam sambutan pembukanya, Dekan FKIP Dr. Hj. Henny Setiawati, M.Pd, menekankan  bahwa mahasiswa calon guru memegang peranan krusial sebagai garda terdepan dalam transformasi masa depan dunia pendidikan. Kompetensi pendidik abad ke-21 tidak lagi boleh terjebak pada batas konvensional berupa transfer pengetahuan akademis semata, melainkan wajib menguasai pengelolaan lingkungan belajar yang holistik. Ditegaskan pula dalam forum tersebut, "Melalui kegiatan ini, institusi berkomitmen melahirkan generasi pendidik masa depan yang memiliki kepekaan sosial tinggi, cerdas hukum, dan mampu menjadi pelopor terciptanya ekosistem pendidikan yang aman, inklusif, dan humanis di Indonesia".

Langkah pembekalan strategis ini dinilai sangat mendesak guna merespons dinamika sosial-politik kontemporer. Potret realitas di lapangan acapkali menunjukkan adanya kesenjangan antara idealisme kompetensi dan kesiapan riil para calon pendidik. Masih banyak mahasiswa kependidikan yang belum dibekali literasi sosiologis serta klinis yang cukup untuk mengidentifikasi gejala-gejala awal (early warning signs) tindak intoleransi maupun eksklusi pergaulan di sekolah. Tanpa kepekaan yang memadai, calon guru berisiko melakukan pembiaran involuntari yang justru dapat memperparah segregasi sosial di kalangan peserta didik. Untuk menjembatani kesenjangan tersebut, workshop yang dilaksanakan dari pukul 08.00 hingga 17.30 WITA ini menghadirkan dua pakar utama di bidangnya. Wahyu Rasyid, S.H., M.H., CLA, selaku dosen sekaligus praktisi hukum, membedah secara komprehensif mengenai fondasi wawasan kebangsaan, identitas nasional, dan perlindungan hukum ketatanegaraan guna memberikan landasan dogmatis yang kuat mengenai esensi bernegara. Sementara itu, Dr. Patahuddin Hakim, M.Pd selaku Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat PDM Kota Parepare, menajamkan kapasitas peserta pada keterampilan resolusi konflik, empati lintas budaya, dan strategi implementasi kampanye kebinekaan di lingkungan sekolah, kampus dan masyarakat.

Kegitan ini dilakukan dengan metode pendekatan andragogi interaktif yang disinergikan erat dengan model Pembelajaran Berbasis Kasus (Case-Based Learning) dan Problem-Based Learning. Para mahasiswa diajak memasuki ruang refleksi kritis untuk menyimulasikan penyelesaian perselisihan berbasis SARA menggunakan pendekatan mediasi yang humanis, menyusun standar operasional mitigasi, serta merancang draf taktis kampanye inklusivitas.

Penyelenggaraan workshop ini merupakan manifestasi nyata dari tanggung jawab institusional dalam melahirkan pendidik yang tangguh di era pluralitas. Para lulusan diharapkan dapat bertransformasi menjadi agen perubahan (agents of change) yang cerdas hukum dan cakap secara prosedural guna meruntuhkan eksklusivisme sistemik. Ke depannya, wawasan dan keterampilan praktis ini dituntut untuk diwujudkan ke dalam aksi nyata yang berkelanjutan di lapangan, di mana mahasiswa calon guru wajib mengintegrasikan nilai-nilai multikulturalisme secara langsung ke dalam perangkat pembelajaran seperti Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) atau Modul Ajar saat mereka diterjunkan bertugas di sekolah-sekolah mitra.

 


Bagikan: